Jumat, 25 Oktober 2013

LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN III 2013



Sehubungan dengan perkembangan ekonomi  Indonesia dalam triwulan III 2013, Bank Dunia mengingatkan bertambahnya risiko terhambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia karena kondisi eksternal yang mengganjal hingga tahun depan. Penyesuaian ekonomi  sedang berlangsung saat ini  karena penurunan laju pertumbuhan diperkirakan akan bertahan lebih lama akibat fluktuasi  komoditas bukan minyak, harga minyak internasional dan situasi pendanaan eksternal yang tidak menguntungkan.

Sebagian besar risiko pelambatan laju perkembangan berasal dari  perkembangan ekonomi China, permintaan akan investasi , dan kualitas tanggapan kebijakan di negara ekonomi berpenghasilan tinggi maupun berkembang, seiring menyusutnya likuiditas global.

Selain itu, risiko juga berasal dari dalam negeri berupa kenaikan harga-harga  yang memengaruhi permintaan dalam negeri, suku bunga tinggi dan dampak negatif harga saham terhadap kegiatan investasi serta nilai aset korporasi.

Kurangnya pendanaan internasional berbiaya rendah dan permintaan yang kuat atas dana luar-negeri menunjukkan pentingnya penyesuaian kebijakan ekonomi makro dan upaya meningkatkan daya saing secara berkelanjutan.

Pengaturan kebijakan fiskal dan moneter Indonesia akan terus memainkan peran utama dalam memfasilitasi penyesuaian yang sedang berlangsung, untuk meminimalkan risiko-risiko terkait dan menjaga laju pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Prospek pertumbuhan ekonomi dapat membaik, asalkan pemulihan ekonomi global berlangsung lebih cepat dari perkiraan akhir 2014, dan Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan menguatnya perdagangan global serta pergerakan investasi.

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2013 hanya berada pada angka 5,6 persen. Proyeksi ini menurun dibandingkan dengan laporan Triwulan II Juli 2013 yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akhir tahun berada pada kisaran 5,9 persen. Proyeksi laju pertumbuhan  6,2 persen pada 2014 dengan demikian ikut terkoreksi  dan diperkirakan hanya mencapai 5,3 persen. Faktor determinannya adalah kondisi pasar modal internasional yang masih akan terus bergejolak meskipun perekonomian negara berpendapatan tinggi akan mulai pulih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar