Kamis, 13 Februari 2025

NERACA TRANSAKSI BERJALAN 2025

Catatan Bambang Kussriyanto, 12 Februari 2025

 Neraca transaksi berjalan atau current account merupakan neraca yang meliputi perdagangan barang dan jasa, penghasilan , serta transfer berjalan. Neraca transaksi berjalan merupakan salah satu indikator di dalam makroekonomi yang digunakan sebagai acuan dalam menilai stabilitas eksternal ekonomi di suatu negara untuk mencerminkan kekuatan dari daya saing internasional suatu bangsa dalam memanfaatkan sumber daya imilikinya.

Komponen-komponen transaksi berjalan, yaitu :

  1. Neraca perdagangan adalah suatu transaksi ekspor dan impor barang. Sedangkan ekspor dan impor jasa masuk ke dalam neraca jasa-jasa, yang meliputi transaksi penyediaan jasa oleh penduduk kepada bukan penduduk (arus masuk) dan oleh bukan penduduk kepada penduduk (arus keluar).
  2. Jasa adalah suatu transaksi penyediaan jasa antara penduduk dan bukan penduduk. Ada 11 (sebelas) jenis jasa yang termasuk di dalam Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), seperti : jasa transportasi, travel, jasa komunikasi, jasa konstruksi, jasa asuransi, jasa keuangan, jasa komputer dan informasi, dan jasa bisnis lainnya.
  3. Pendapatan adalah hasil yang timbul dari penyediaan faktor produksi tenaga kerja dan modal finansial. Pendapatan terdiri dari kompensasi tenaga kerja dan pendapatan investasi. Kompensasi tenaga kera bersumber dari pekerja musiman yang bekerja kurang dari satu tahun.Pendapatan investasi terbagi tiga yaitu pendapatan investasi langsung, pendapatan investasi portofolio dan pendapatan investasi lainnya.
  4. Transfer berjalan mencatat transaksi sepihak yang melibatkan penyerahan sumber daya tanpa timbal balik. Contoh : hadiah atau hibah


SIARAN PERS KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA 
HM.4.6/408/SET.M.EKON.3/11/2024 Jakarta, 22 November 2024 menyatakan Neraca Pembayaran Indonesia Alami Surplus Menjadi Sinyal Stabilitas Ketahanan Eksternal yang Terjaga. 

Dikatakan: Stabilitas ketahanan eksternal Indonesia hingga saat ini tetap terjaga di tengah berbagai dinamika risiko global yang tengah terjadi, yang salah satunya ditunjukkan oleh capaian surplus pada neraca transaksi ekonomi internasional Indonesia. Menurut laporan Bank Indonesia, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Q3-2024 mencatatkan surplus sebesar USD5,9 miliar, dimana sebelumnya mengalami defisit sebesar USD0,6 miliar pada Q2-2024.


Penurunan Defisit Transaksi Berjalan

Torehan surplus tersebut dipicu oleh perbaikan sejumlah indikator, salah satunya penurunan defisit transaksi berjalan menjadi USD2,2 miliar (0,6% dari PDB), lebih baik dibandingkan defisit USD3,2 miliar (0,9% dari PDB) pada Q2-2024. Perkembangan positif tersebut dipengaruhi oleh perbaikan defisit Neraca Jasa dari sebelumnya USD5,1 miliar menjadi USD4,2 miliar, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari jasa perjalanan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisman ke Indonesia karena penyelenggaraan acara berskala internasional dan periode libur musim panas.

Selain dipengaruhi capaian Neraca Jasa, penurunan defisit transaksi berjalan juga didorong oleh perbaikan defisit Neraca Pendapatan Primer menjadi USD8,9 miliar atau lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar USD9,6 miliar, yang disebabkan oleh penurunan pembayaran imbal hasil atas investasi langsung dan investasi portfolio sejalan dengan pola siklus bisnis. Kinerja positif lainnya juga ditunjukkan oleh peningkatan surplus Neraca Pendapatan Sekunder menjadi USD1,6 miliar, atau lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar USD1,5 miliar yang disebabkan oleh peningkatan penerimaan hibah Pemerintah dan transfer personal dalam bentuk remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Peningkatan Surplus Transaksi Modal dan Finansial

Lebih lanjut, surplus Neraca Pembayaran juga dipicu oleh adanya peningkatan surplus Transaksi Modal dan Finansial menjadi USD6,6 miliar (1,8% dari PDB) dari sebelumnya hanya sebesar USD3,0 miliar (0,9% dari PDB) pada Q2-2024. Perkembangan positif ini dipengaruhi oleh peningkatan surplus Investasi Langsung menjadi USD5,2 miliar, didorong tingginya penyertaan modal asing dalam bentuk ekuitas, terutama di sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran.  Selain itu, peningkatan surplus Investasi Portfolio menjadi USD9,6 miliar, yang berasal dari pembelian instrumen jangka panjang yakni Surat Utang Negara (SUN) Rupiah dan Global Bond Pemerintah, serta instrumen jangka pendek yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga menjadi aspek yang mendorong perkembangan surplus Transaksi Modal dan Finansial.

Cadangan Devisa Meningkat

Capaian surplus Neraca Pembayaran tersebut juga turut mempengaruhi posisi cadangan devisa Indonesia. Cadangan devisa telah meningkat menjadi sebesar USD149,9 miliar pada akhir September 2024, atau setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Kebijakan Strategis Pemerintah

Sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ketahanan eksternal di tengah tekanan global seperti penguatan indeks dolar AS yang memengaruhi volatilitas pasar keuangan Indonesia, Pemerintah juga telah menerapkan kebijakan strategis untuk mengurangi kerentanan nilai tukar melalui penguatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral. Implementasi Local Currency Transaction (LCT), yang merupakan perluasan dari Local Currency Settlement (LCS), berperan penting dalam memfasilitasi perdagangan dan investasi antar negara dengan mengurangi ketergantungan pada mata uang asing tertentu. Langkah ini diharapkan mendukung pendalaman pasar keuangan serta stabilisasi nilai tukar.

“Dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan LCT, Pemerintah bersama Bank Indonesia membentuk Satuan Tugas Nasional LCT, yang ditargetkan untuk meningkatkan penggunaan LCT hingga 10% pada 2024 dan 2025,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Langkah ini juga diperkuat dengan sosialisasi dan insentif kepada pelaku usaha, eksportir, importir, dan BUMN untuk mendorong keterlibatan aktif dalam stabilisasi ekonomi melalui kebijakan tersebut. Dengan berbagai strategi yang telah diterapkan, pemerintah berkomitmen menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika perekonomian global.

Selain itu, Pemerintah terus menjalin kerja sama ekonomi di berbagai forum sebagai upaya untuk meningkatkan akses produk ekspor Indonesia dan mendorong investasi asing ke dalam negeri untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal dan menjaga surplus neraca pembayaran. Kemitraan Indonesia dengan negara IPEF telah memberikan langkah konkret bersama dalam mewujudkan perluasan pasar melalui rantai pasok global yang tangguh, fasilitasi ekonomi bersih, dan kemudahan investasi. Upaya aksesi OECD juga terus dilanjutkan untuk mendorong reformasi sesuai dengan standar negara maju, yang diharapkan dapat meningkatkan daya tarik investasi dan memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan NPI 2024 akan tetap tumbuh positif dengan defisit neraca transaksi berjalan yang terjaga dalam kisaran rendah sebesar 0,1% hingga 0,9% dari PDB. Dengan mempertimbangkan capaian dan proyeksi positif tersebut, Pemerintah akan terus berupaya menjaga perkembangan NPI di tengah dinamika perekonomian global dengan memperkuat kebijakan dan koordinasi antar pihak.

Gambaran Ekonomi Indonesia 2025

Catatan Bambang Kussriyanto 12 Februari 2025 

Dari AI Overview saya mendapatkan Gambaran Ekonomi Indonesia sebagai berikut. 

Ekonomi Indonesia pada tahun 2024 tumbuh sebesar 5,03%, melambat dari tahun 2023 yang tumbuh 5,05%Pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor nonmigas. 
Namun, ada beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini, seperti: Melemahnya daya beli masyarakat, Meningkatnya jumlah PHK, Penerimaan negara menurun. 
Beberapa faktor yang mendorong perekonomian Indonesia saat ini adalah: Terjaganya konsumsi rumah tangga, Terjaganya investasi, Terjaganya ekspor nonmigas, Belanja pemerintah yang menopang permintaan domestik. 
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah perlu: Memperkuat kebijakan reformasi struktural, Menyerap dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja, Menjaga inflasi pada kisaran yang ditetapkan. 
Pada Januari 2025, Indonesia berada di peringkat 7 sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia. 
Menurut data yang dirilis Biro Pusat Statistik pada 5 Februari 2025, 
  • Perekonomian Indonesia 2024 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp22.139,0 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp78,6 juta atau USD4.960,3.
  • Ekonomi Indonesia tahun 2024 tumbuh sebesar 5,03 persen, melambat  dibanding capaian tahun 2023 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,05 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 9,80 persen. Sementara itu, pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 12,48 persen.

 Peningkatan dari sektor jasa, khususnya lapangan usaha jasa lainnya yang mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 11,36 persen mendukung angka pertumbuhan 2024.  Secara umum Pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
  1. Kebijakan Pemerintah: Regulasi, kebijakan fiskal, dan moneter. Kebijakan investasi dan insentif yang baik dapat menarik lebih banyak investor.

  2. Investasi: Tingkat investasi, baik domestik maupun asing untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kapasitas produksi. 

  3. Sumber Daya Alam: Kekayaan sumber daya alam Indonesia, seperti minyak, gas, mineral, dan hasil pertanian, 

  4. Tenaga Kerja: Kualitas dan kuantitas tenaga kerja . Pendidikan, keterampilan, dan pelatihan yang tepat sangat berpengaruh terhadap produktivitas.

  5. Infrastruktur: Ketersediaan dan kualitas infrastruktur (transportasi, energi, komunikasi) untuk efisiensi ekonomi. Investasi dalam infrastruktur dapat mendorong konektivitas dan mengurangi biaya.

  6. Stabilitas Politik dan Keamanan: Kondisi politik yang stabil dan aman mendukung kepercayaan investor dan menciptakan iklim yang kondusif untuk berbisnis.

  7. Perdagangan Internasional:  perkembangan produksi ekspor-impor serta kerjasama perdagangan dan perjanjian internasional yang membuka peluang baru.

  8. Inovasi dan Teknologi: Kemajuan dalam teknologi dan inovasi dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi, 

  9. Kondisi Ekonomi Global: Pertumbuhan ekonomi di negara-negara mitra dagang, harga komoditas global, dan kondisi ekonomi internasional.

  10. Tantangan Sosial dan Lingkungan: Masalah ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan dampak lingkungan sebaliknya mempengaruhi pertumbuhan secara negatif, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kombinasi dari faktor-faktor di atas menciptakan dinamika yang kompleks dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Upaya untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan potensi yang ada sangat penting untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.


Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) berhasil mencapai sasaran inflasi pada 2024 sebesar 1,57 persen year-on-year (YoY), yang terjaga dalam rentang sasaran 2,5 persen dengan toleransi kurang lebih 1 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,58. Pada bulan-bulan sebelumnya, inflasi tercatat sebagai berikut: Agustus 2024 - 2,12%, Juli 2024 - 2,13%, Juni 2024 - 2,51%, dan Mei 2024 - 2,84%. Ini menunjukkan bahwa inflasi mengalami fluktuasi namun tetap berada dalam range yang relatif stabil.


Untuk gambaran makroekonomi, Neraca institusi terintegrasi yang mencerminkan total ekonomi antara 2016-2023 disajikan BPS dalam tabel berikut:

Badan Pusat Statistik Indonesia. (23 Desember 2021). Total Ekonomi - Neraca Institusi Terintegrasi ( triliun rupiah), 2016 - 2023. Diakses pada 13 Februari 2025, dari https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MjE4MSMx/total-ekonomi---neraca-institusi-terintegrasi---triliun-rupiah---2016---2023.html