Kita sudah memasuki Triwulan IV tahun 2013. Situasi perekonomian sudah
berubah dalam realisasinya. Namun tetap berguna untuk mengingat kembali
asumsi-asumsi dasar perekonomian di awal tahun, untuk menghitung
perubahan-perubahan yang terjadi, terutama untuk membuat rencana-rencana
pendahuluan untuk 2014 nanti. Asumsi dasar ekonomi makro mencakup variabel-variabel yang dinilai memiliki
dampak signifikan terhadap
postur APBN. Meskipun asumsi dasar tersebut hanya sebagai ancar-ancar dalam
menghitung postur APBN, namun dalam kondisi tertentu, asumsi dasar tersebut dapat menjadi target yang harus dapat
dicapai. Berkaitan dengan itu, menjaga stabilitas ekonomi makro menjadi keharusan dalam rangka mengamankan
pelaksanaan APBN.
Asumsi dasar ekonomi
makro 2013 tersebut disusun dengan memperhatikan perkembangan
hingga saat ini dan
prospeknya ke depan. Dengan modal kinerja ekonomi Indonesia dalam
lima tahun terakhir
yang cukup menggembirakan, prospek kondisi ekonomi makro Indonesia
ke depan
diperkirakan berpotensi membaik. Dengan memperhatikan produk domestik bruto
(PDB) yang mampu
tumbuh rata-rata 5,9 persen per tahun dalam kurun waktu 2007– 2011, di tahun 2012 dan 2013 ekonomi
Indonesia diperkirakan akan dapat tumbuh di atas 6
persen. Inflasi
dapat dikendalikan pada tingkat yang moderat, sejalan dengan target inflasi
dari Bank Indonesia.
Sejalan dengan itu, suku bunga juga mulai menunjukkan penurunan.
Nilai tukar rupiah
relatif stabil, meskipun sejak akhir 2011 mengalami pelemahan sebagai
imbas dari krisis
ekonomi global.
Variabel lain yang
dijadikan asumsi dasar ekonomi makro 2013 adalah terkait dengan
perhitungan migas,
baik dari sisi penerimaan maupun belanja. Variabel-variabel tersebut
meliputi harga
minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price – ICP), lifting minyak,
dan lifting gas. Variabel lifting gas baru mulai dimunculkan sebagai
asumsi dasar sejak RAPBN 2013 ini, dalam rangka meningkatkan transparansi perhitungan penerimaan gas
bumi. Harga minyak mentah
Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, sehingga sulit untuk diprediksi.
Lifting minyak dan gas sebenarnya didominasi
oleh faktor internal, tetapi hal tersebut menjadi tantangan yang cukup kompleks mengingat pencapaian
lifting minyak yang selalu di bawah target dalam
beberapa tahun terakhir.
Dengan mempertimbangkan
berbagai fakta tersebut dengan seksama, asumsi dasar ekonomi makro yang digunakan dalam penyusunan
postur RAPBN 2013 adalah sebagai berikut.
1. Pertumbuhan
ekonomi diperkirakan sebesar 6,8 persen. Dari sisi penggunaan,
pertumbuhan ekonomi
2013 diperkirakan didorong utamanya oleh konsumsi masyarakat
dan pemerintah,
serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB)/investasi. Dari sisi produksi,
sektor pertanian,
sektor industri pengolahan, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel,
dan restoran, serta
sektor pengangkutan dan komunikasi diperkirakan masih tetap menjadi
sektor pendorong
pertumbuhan ekonomi. Angka pertumbuhan ekonomi (%) (Real 2007) 6,3; (Real 2008) 6,0; (Real
2009) 4,6; (Real 2010) 6,2; (Real 2011) 6,5
(RAPBN 2012) 6,3 - 6,5 RAPBN
(2013) 6,8
2. Laju inflasi
diharapkan dapat dikendalikan pada tingkat 4,9 persen. Hal tersebut
diharapkan dapat
dicapai melalui kelancaran pasokan dan distribusi barang dan jasa,
membaiknya
koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil yang didukung oleh
meningkatnya
kesadaran pemerintah daerah dalam upaya pengendalian inflasi. Angka . Inflasi (%), (Real 2007) 6,6;
(Real 2008) 11,1; (Real 2009) 2,8; (Real 2010)7,0; (Real 2011) 3,8; (RAPBN 2012) 6,8 - 4,8; RAPBN (2013) 4,9.
3. Rata-rata nilai
tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tahun 2013 diperkirakan
sebesar Rp9.300/US$.
Tekanan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan
bersumber dari
semakin menurunnya surplus neraca perdagangan Indonesia, serta
perlambatan ekonomi
di Cina, India, dan Brazil yang dikhawatirkan akan mengurangi
daya tarik arus
modal masuk ke negara emerging market dan mendorong terjadinya
flight to quality. Nilai Tukar (Rp/US$) (Real 2007) 9.140;
(Real 2008) 9.691; (Real 2009) 10.408; (Real
2010) 9.087; (Real 2011) 8.779; (RAPBN 2012)
9.000- 9.250; RAPBN (2013) 9.300.
4. Tingkat suku
bunga SPN 3 bulan di tahun 2013 diperkirakan sebesar 5,0 persen. Faktor-
faktor yang menjadi
pertimbangan antara lain adalah terkendalinya inflasi, nilai tukar,
dan arus modal masuk
ke Indonesia. Suku Bunga SPN 3 Bulan (%) (Real 2007) 8,0;
(Real 2008) 9,3; (Real 2009) 7,5; (Real 2010) 6,6; (Real 2011) 4,8; (RAPBN
2012) 5,0- 3,9; RAPBN (2013) 5,0.
5. Rata-rata harga
minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price
(ICP) di pasar internasional diperkirakan mencapai
sebesar US$100 per barel. Perkiraan tersebut antara lain didukung oleh proyeksi pertumbuhan
permintaan minyak dan melambatnya pertumbuhan pasokan minyak dari negara-negara non-OPEC. Harga Minyak ICP (US$/barel) (Real
2007)72,3; (Real 2008) 97,0; (Real 2009) 61,6;
(Real 2010) 79,4; (Real 2011) 111,5; (RAPBN 2012) 105,0 - 110,0; RAPBN (2013) 100,0
6. Lifting minyak dan gas bumi Indonesia pada
tahun 2013 diperkirakan mencapai 2.260
ribu barel setara
minyak, yang meliputi lifting minyak sebesar 900 ribu barel per hari,
dan lifting gas bumi
1.360 ribu barel setara minyak. Mulai RAPBN 2013 ini, asumsi
lifting gas disatukan dengan asumsi lifting minyak, antara lain dimaksudkan untuk
menyelaraskan dengan
program intensifikasi penggunaan sumber energi alternatif selain
minyak, serta
perbaikan perhitungan penerimaan dan belanja negara yang lebih rasional.
Perbaikan
perhitungan tersebut didasarkan pada fakta yang menunjukkan bahwa upaya-
upaya eksplorasi
lapangan-lapangan migas pada tahun-tahun belakangan lebih banyak
menemukan cadangan
gas bumi.
Pada akhir Triwulan II 2013 Komisi XI bersama Menteri Keuangan,
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas , Deputy Gubernur Bank Indonesia, dan Kepala
Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (24/6) di Gedung DPR RI,
akhirnya menyetujui empat hal yang dijadikan sebagai Asumsi Ekonomi Makro
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2014. Empat
hal itu adalah, Pertumbuhan Ekonomi disepakati berada di kisaran angka
6,4 - 6,9 persen. Inflasi berada di kisaran 4,5 - 5,5 persen. Nilai
tukar rupiah berada di kisaran 9600 - 9800 per dollar Amerika. Suku
Bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tiga bulan 4,5 - 5,5.
Sedangkan untuk permasalahan Harga Minyak Mentah yang diusulkan berada dikisaran 100 -115 dolar Amerika per barel, Lifting Minyak yang diusulkan dikisaran 900 - 910 ribu barel sehari dan Lifting Gas yang diusulkan dikisaran 1240 ribu - 1325 ribu barel, masih belum mendapat persetujuan. Mengingat kebijakan ini tidak berada dibawah tanggung jawab Komisi XI.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar