Selasa, 29 Oktober 2013

Mengingat Kembali Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2013



Kita sudah memasuki Triwulan IV tahun 2013. Situasi perekonomian sudah berubah dalam realisasinya. Namun tetap berguna untuk mengingat kembali asumsi-asumsi dasar perekonomian di awal tahun, untuk menghitung perubahan-perubahan yang terjadi, terutama untuk membuat rencana-rencana pendahuluan untuk 2014 nanti. Asumsi dasar ekonomi makro mencakup variabel-variabel yang dinilai memiliki dampak signifikan terhadap postur APBN. Meskipun asumsi dasar tersebut hanya sebagai ancar-ancar dalam menghitung postur APBN, namun dalam kondisi tertentu, asumsi dasar tersebut dapat menjadi target yang harus dapat dicapai. Berkaitan dengan itu, menjaga stabilitas ekonomi makro menjadi keharusan dalam rangka mengamankan pelaksanaan APBN.

Asumsi dasar ekonomi makro 2013 tersebut disusun dengan memperhatikan perkembangan
hingga saat ini dan prospeknya ke depan. Dengan modal kinerja ekonomi Indonesia dalam
lima tahun terakhir yang cukup menggembirakan, prospek kondisi ekonomi makro Indonesia
ke depan diperkirakan berpotensi membaik. Dengan memperhatikan produk domestik bruto
(PDB) yang mampu tumbuh rata-rata 5,9 persen per tahun dalam kurun waktu 2007– 2011, di tahun 2012 dan 2013 ekonomi Indonesia diperkirakan akan dapat tumbuh di atas 6
persen. Inflasi dapat dikendalikan pada tingkat yang moderat, sejalan dengan target inflasi
dari Bank Indonesia. Sejalan dengan itu, suku bunga juga mulai menunjukkan penurunan.
Nilai tukar rupiah relatif stabil, meskipun sejak akhir 2011 mengalami pelemahan sebagai
imbas dari krisis ekonomi global.

Variabel lain yang dijadikan asumsi dasar ekonomi makro 2013 adalah terkait dengan
perhitungan migas, baik dari sisi penerimaan maupun belanja. Variabel-variabel tersebut
meliputi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price – ICP), lifting minyak,
dan lifting gas. Variabel lifting gas baru mulai dimunculkan sebagai asumsi dasar sejak RAPBN 2013 ini, dalam rangka meningkatkan transparansi perhitungan penerimaan gas bumi. Harga minyak mentah Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, sehingga sulit untuk diprediksi.

Lifting minyak dan gas sebenarnya didominasi oleh faktor internal, tetapi hal tersebut menjadi tantangan yang cukup kompleks mengingat pencapaian lifting minyak yang selalu di bawah target dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan mempertimbangkan berbagai fakta tersebut dengan seksama, asumsi dasar ekonomi makro yang digunakan dalam penyusunan postur RAPBN 2013 adalah sebagai berikut.


1. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan sebesar 6,8 persen. Dari sisi penggunaan,
pertumbuhan ekonomi 2013 diperkirakan didorong utamanya oleh konsumsi masyarakat
dan pemerintah, serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB)/investasi. Dari sisi produksi,
sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel,
dan restoran, serta sektor pengangkutan dan komunikasi diperkirakan masih tetap menjadi
sektor pendorong pertumbuhan ekonomi. Angka pertumbuhan ekonomi (%)  (Real 2007) 6,3; (Real 2008)  6,0;  (Real 2009) 4,6; (Real 2010) 6,2; (Real 2011) 6,5   (RAPBN 2012) 6,3 - 6,5 RAPBN (2013) 6,8 

2. Laju inflasi diharapkan dapat dikendalikan pada tingkat 4,9 persen. Hal tersebut
diharapkan dapat dicapai melalui kelancaran pasokan dan distribusi barang dan jasa,
membaiknya koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil yang didukung oleh
meningkatnya kesadaran pemerintah daerah dalam upaya pengendalian inflasi. Angka . Inflasi (%), (Real 2007) 6,6;  (Real 2008) 11,1;  (Real 2009) 2,8;  (Real 2010)7,0;  (Real 2011) 3,8;  (RAPBN 2012) 6,8 - 4,8;   RAPBN (2013) 4,9.

3. Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tahun 2013 diperkirakan
sebesar Rp9.300/US$. Tekanan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan
bersumber dari semakin menurunnya surplus neraca perdagangan Indonesia, serta
perlambatan ekonomi di Cina, India, dan Brazil yang dikhawatirkan akan mengurangi
daya tarik arus modal masuk ke negara emerging market dan mendorong terjadinya
flight to quality. Nilai Tukar (Rp/US$)  (Real 2007) 9.140;  (Real 2008) 9.691; (Real 2009) 10.408; (Real 2010) 9.087; (Real 2011)  8.779; (RAPBN 2012) 9.000- 9.250; RAPBN (2013) 9.300.


4. Tingkat suku bunga SPN 3 bulan di tahun 2013 diperkirakan sebesar 5,0 persen. Faktor-
faktor yang menjadi pertimbangan antara lain adalah terkendalinya inflasi, nilai tukar,
dan arus modal masuk ke Indonesia. Suku Bunga SPN 3 Bulan (%)  (Real 2007)  8,0; (Real 2008) 9,3; (Real 2009) 7,5; (Real 2010) 6,6; (Real 2011)  4,8;  (RAPBN 2012) 5,0- 3,9;  RAPBN (2013) 5,0.

5. Rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price
(ICP) di pasar internasional diperkirakan mencapai sebesar US$100 per barel. Perkiraan tersebut antara lain didukung oleh proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dan melambatnya pertumbuhan pasokan minyak dari negara-negara non-OPEC. Harga Minyak ICP (US$/barel)  (Real 2007)72,3; (Real 2008) 97,0; (Real 2009) 61,6;  (Real 2010) 79,4;  (Real 2011)  111,5; (RAPBN 2012) 105,0 - 110,0;  RAPBN (2013) 100,0

6. Lifting minyak dan gas bumi Indonesia pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 2.260
ribu barel setara minyak, yang meliputi lifting minyak sebesar 900 ribu barel per hari,
dan lifting gas bumi 1.360 ribu barel setara minyak. Mulai RAPBN 2013 ini, asumsi
lifting gas disatukan dengan asumsi lifting minyak, antara lain dimaksudkan untuk
menyelaraskan dengan program intensifikasi penggunaan sumber energi alternatif selain
minyak, serta perbaikan perhitungan penerimaan dan belanja negara yang lebih rasional.
Perbaikan perhitungan tersebut didasarkan pada fakta yang menunjukkan bahwa upaya-
upaya eksplorasi lapangan-lapangan migas pada tahun-tahun belakangan lebih banyak
menemukan cadangan gas bumi.

Pada akhir Triwulan II 2013 Komisi XI bersama Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas , Deputy Gubernur Bank Indonesia, dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (24/6) di Gedung DPR RI, akhirnya menyetujui empat hal yang dijadikan sebagai Asumsi Ekonomi Makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2014. Empat hal itu adalah, Pertumbuhan Ekonomi disepakati berada di kisaran angka 6,4 - 6,9 persen. Inflasi berada di kisaran 4,5 - 5,5 persen. Nilai tukar rupiah berada di kisaran 9600 - 9800 per dollar Amerika. Suku Bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tiga bulan 4,5 - 5,5.



Sedangkan untuk permasalahan Harga Minyak Mentah yang diusulkan berada dikisaran 100 -115 dolar Amerika per barel, Lifting Minyak yang diusulkan dikisaran 900 - 910 ribu barel sehari dan Lifting Gas yang diusulkan dikisaran 1240 ribu - 1325 ribu barel, masih belum mendapat persetujuan. Mengingat kebijakan ini tidak berada dibawah tanggung jawab Komisi XI.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar